Wednesday, January 13, 2010

Pita Hitam.

Baru saja pukul 6.30 pagi GMT +1, saat saya terbangun dari tidur karena getaran telepon genggam yang terus menerus. Rupanya kawan-kawan di jakarta sedang berbincang soal rapat dengar Pansus DPR dengan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.

Karena penasaran, lantas saya menjoba streaming liputan langsungnya yang disiarkan di MetroTV. Baru beberapa menit menonton, saya sudah merasa miris hatinya. Beginikah cara mereka mewakili rakyat di kursi parlemen ? sebuah fenomena yang menurut saya adalah suatu ironi yang amat tidak pantas bagi proses pembelajaran tata cara berkenegaraan di Indonesia.

Saya memang bukan seorang mahasiswa yang ahli soal tata negara, hukum, dan politik. Tapi setidaknya saya tahu tentang ekonomi. Dan setidaknya lagi, saya pernah diajari tata krama.

Mengapa ini menjadi penting untuk mari bersama kita cermati ? saya hanya ingin mengedepankan dua aspek; content and context. atau awam nya : isi dan cara.

Yang pertama soal content. Buat saya cukup mencengangkan bila anggota parlemen kita (baca:DPR), khususnya anggota pansus persoalan bank century, menanyakan pertanyaan tanpa memiliki pengetahuan yang cukup atas duduk permasalahannya. Saya merasa mereka tidak benar-benar paham dan mengerti sepenuhnya arti dari jargon-jargon yang mereka pakai sendiri. Apakah mereka benar-benar paham arti kata "sistemik" ? apa mereka mengerti bagaimana cara perekonomian bekerja ? apa landasan pengetahuan makroekonomi mereka sudah mumpuni ? apa mereka sudah membaca undang-undang perbankan sebelumnya ? dan masih banyak lagi daftar keraguan saya atas kerangka berpikir mereka. Karena alasan itu, rapat dengar ini menurut saya menjadi seperti kuliah umum dimana mahasiswa yang bertanya belum sempat membaca materi kuliah yang dipaparkan. Hasilnya ? pertanyaan bodoh yang keluar. Penyelamatan atau bail-out sebuah bank dengan nilai 6,7 trilluin rupiah yang nyatanya tidak sama sekali merugikan negara dikritisi habis-habisan. Ditelanjangi entah dari perspective mana.

Apakah mereka benar-benar paham alasan dari keputusan tersebut. Mengapa langkah pencegahan sama sekali lebih tidak dihargai dibanding langkan penanggulangan ? Salah satu dari mereka (anggota pansus) bertanya apa pengaruhnya bank dengan total asset 11 trilluin berpengaruh terhabat kapitalisasi ekonomi Indonesia yang hari ini berada di angka sekitar 10,800 trilliun (mohon dikoreksi kalau ada kesalahan data). Saya jadi tertawa mendengarnya. Seperti yang saya utarakan sebelumnya, mereka faham betul tidak arti kata sistemik ? mungkin terdengar sumbang, tapi saya sarankan mereka banyaklah belajar. baca lah itu jurnal-jurnal ilmiah yang ada. baca buku-buku teks perekonomian. jangan hanya baca perkembangan berita pemilu dan politik. tingkatkan lah taraf pengetahuan kalian ! upgrade lah pendidikan kalian, wahai anggota dewan yang terhormat ! Apakah perekonomian Indonesia hari ini ada di dalam keterpurukan krisis ? apakah sistem perbankan kita collapse ? tidak bapak-bapak anggota dewan ! ekonomi kita hari ini masih tumbuh 4,21 % disaat kebanyakan perekonomian dunia tumbuh negatif, saudara-saudara !

Itu soal content atau isi, sekarang saya mau bicara soal context atau cara. Yang saya dengar, banyak dari para anggota dewan kita yang punya titel sarjana, magister bahkan doktoral. Yang menjadi tanda tanya besar bagi saya adalah, dimana etika mereka ? itukah cara mereka bertanya dan meminta keterangan dari seseorang ? itu bukan rapat dengar namanya, itu interogasi ! Ayolah bapak-bapak anggota dewan yang terhormat. Sri Mulyani Indrawati toh bukan orang yang tidak berpendidikan. Gelar doktoral bidang ekonomi moneter dari University of Illinois, Urbana-Champaign bukanlah suatu gelar biasa-biasa. Tidak semua orang bisa kesana untuk belajar.

Saya menyaksikan hilangnya tata krama mereka. Itu bukan cara bertanya orang-orang yang berpendidikan. That's not the way educated people questioning someone. Tak perlu lah tinggi-tinggi jenjang pendidikannya, saya yakin di SMP saja pasti sudah diajarkan cara menghargai pendapat orang lain, cara berbicara bergantian, dan cara berdiskusi dengan santun. Saya yakin, rapat RT di desa-desa di pedalaman Indonesia masih lebih santun dari cara mereka bertanya. Padahal mereka bukan orang yang berpendidikan tinggi. Malah banyak yang tidak sekolah sama sekali. Pertanyaan yang diulang-ulang, interupsi yang tidak perlu, komentar yang tidak sepantasnya, hal-hal ini lah yang menurut saya jauh dari high standard moral ground. Mereka sama sekali tidak punya etika dan manner. Menghakimi layaknya menghakimi maling ayam saja. Saya yakin semua orang yang menonton siaran itu akan tertawa menyaksikan fenomena ini. Anggota DPR kita tidak santun kawan-kawan ! Saya yakin betul bila guru SD mereka menyaksikan, mereka pasti akan teriris hatinya. Dimana nilai-nilai budi pekerti yang dianjarkan di bangku Sekolah Dasar dulu ?

Pesan yang ingin saya sampaikan adalah, jangan kita teruskan tatanan-tananan tak berbudaya seperti itu di negara kita. Saya tidak skeptis soal profesi sebagai anggota DPR, tapi jadilah anggota DPR yang benar dan berbudi ! Seharusnya parlemen kita itu diisi para intelektual, orang-orang yang berpendidikan, yang bermoral baik. Mereka bermuka dua ! kalau bagian "menyelamatkan perekonomian nasional", semua mau ikut dapat nama baik. semua bilang mendukung. tapi kontradiktif disaat mereka bilang "mau menyelamatkan perekonomian", tapi bail-out bank yang nyatanya dilakukan secara prosudural dicaci, dimaki dan dihujat tiada habisnya oleh mereka sendiri. inkonsistensi.

Walaupun sulit, reformasi birokrasi amat diperlukan. Mindset dan mentalitas anggota dewan itu perlu dirubah. Mereka seharusnya memiliki mindset dan mentality yang solutive. bukan hanya berputar-putar di masalah dan mencari kambing hitam. sebagai generasi muda, kita memiliki tanggung jawab moral atas hal itu.

Terakhir, karena saya tidak kuat hati untuk menyaksikan lanjutan siaran langsungnya, saya hanya bisa bantu doa. Melihat ibu Sri Mulyani dihakimi di DPR, sama rasanya seperti melihat ibu saya sendiri di-dzolimi. Yang lebih parah, ini tindakan dzolim berjamaah. Saya tidak dapat membayangkan seberapa tegar beliau, saya saja yang menonton dari jarak ribuan kilometer tidak dapat berhenti mencaci. Allohuakbar ! kebeneran pasti datang dan pasti akan dutunjukkan. Ternyata anggota DPR kita perlu disekolahkan lagi kawan-kawan !

--
atas nama pemuda yang peduli akan bangsanya,

Arif Nindito.

No comments:

Post a Comment